Senin, 14 Mei 2012

Pengaruh Ikhwanul Muslimin di SYRIA


Para pemimpin Ikhwanul Muslimin mengatakan mereka tidak memposisikan diri untuk merebut kekuasaan di Syria di mana rejim Presiden Bashar Assad saat ini sedang diperangi.

Setelah 30 tahun mengalami penganiayaan di Syria, Ikhwanul Muslimin kini telah kembali menjadi salah satu parti politik paling berpengaruh dalam 14-bulan revolusi di negara itu, The Washington Post melaporkan Sabtu lalu.

Anggota Ikhwan memegang kerusi terbanyak di Dewan Nasional Syria, kelompok oposisi utama yang menentang Assad, dan memimpin komite bantuan, yang mendistribusikan bantuan dan wang untuk warga Syria yang mengambil bahagian dalam pemberontakan.

Kelompok ini hampir hancur selama revolusi terakhir di Syria, di mana pasukan pemerintah mengorbankan sebanyak 25.000 orang di Hama pada tahun 1982.

Kembalinya Ikhwan di Syria telah menciptakan kekhuatiran di negara-negara tetangga dan masyarakat internasional yang lebih luas, kata Washington Post. Negara-negara lain takut jika minoriti Syiah alawi dari rejim di Damsyik jatuh, akan diikuti dengan munculnya sebuah pemerintahan Islam Sunni.

Namun pegawai Ikhwan telah mengulurkan tangan kepada negara tetangga Syria, termasuk Jordan, Iraq dan Lebanon, serta para diplomat AS dan Eropah, untuk meyakinkan mereka bahwa Ikhwan tidak punya niat untuk mengambil alih sistem politik di masa depan Syria atau mendirikan pemerintahan Islam.

0 komentar: